Minggu, 20 Februari 2011

> Dinding Kayu

Bahan bangunan memiliki sifat-sifat teknis yang berbeda-beda.
Jika pemilihan kayu sebagai bahan bangunan yang akan dipakai dalam
konstruksi bangunan maka pengetahuan akan metode-metode
pengerjaan kayu harus dipelajari. Kayu sampai saat ini masih
merupakan bahan bangunan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Bahkan dewasa ini kayu merupakan salah satu bahan bangunan yang
mahal.

1. Dinding Kayu Batang Tersusun

Konstruksi batang tersusun untuk dinding dari kayu merupakan
cara yang paling tua, yang sarnpai sekarang masih dipergunakan, Hanya
bentuknya berlainan. Karena kayu mempunyai daya isolasi yang tinggi
maka di Skandinavia dan Eropa Timur konstruksi batang tersusun banyak
digunakan.

Di daerah hutan di Eropa rumah-rumah kediaman dan
sebagainya dibangun dengan konstruksi batang tersusun
Konstruksi rangka tersusun disusun setingkat-setingkat. Kudakuda
penopang di sudut-sudut rumah pada umumnya diatur, sehingga
beban angin langsung disalurkan dari sudut ke bantalan. Penyusutan
konstruksi rangka tersusun di bagian-bagian konstruksi yang melintang
tidak beraturan, bantalan-bantalan, balok lantai dan balok loteng
penyusutannya besar.

Di bagian konstruksi yang tegak yang berupa
tiang-tiang penyusutannya kecil. Dengan memperhatikan perbedaan
dalam penyusutan tersebut di atas, maka lapisan yang tegak tidak boieh
dipasang langsung lebih tinggi dari satu tingkat. Untuk bagian-bagian
konstruksi yang melintang penyusutan sama seperti di konstruksi batang
tersusun, yaitu 3 cm per meter tinggi. Pada konstruksi rangka tersusun
yang terbuka seperti telah disebut di atas, maka untuk kayu bantalan
disarankan agar memakai kayu Ulin atau Jati, karena mempunyai daya
tahan terhadap hujan dan panas yang lebih daripada kayu yang lain.

Dalam konstruksi rangka tersusun tempat-tempat yang terbuka antara
tiang-tiang, palang-palang dan sebagainya diisi dengan tembok dari bata.
Jarak antar tiang pada umumnya sekitar 80 cm.


2. Dinding Kayu Batang Melintang
Gording merupakan bagian atas penutup atap, yang
mendukung seluruh beban atap. Pada bangunan yang bertingkat
gording berperan juga mendukung dinding atasnya. Tinggi gording
disesuaikan dengan beban dan jarak tiang, akan tetapi minimal
12cm. Sambungan seperti pada bantalan, hanya pada sambungan
panjangnya dengan sambungan serong bertingkat, ditambah dengan
dua baut untuk menahan gaya tarik.

Bantalan ke bawah membatasi dinding dan menumpunya.
Bebannya akan disalurkan pada kaki pondasi atau kepala balok.
Oleh sabab itu bantalan harus seluruhnya bertumpu dan cukup kuat.

Bantalan pada dinding bata atau beton harus dikuatkan letaknya
dengan baut angkur yang dimasukkan di dalam dinding, dan pada
kepala balok disambung dengan baut. Kalau bantalan itu tidak cukup
panjang untuk seluruh dinding, maka bisa disambung. Sambungan
dengan ditakik separuh, lihat. Bantalan sebaiknya dibuat dari kayu
Ulin atau kayu Jati, untuk menghindarkan kerusakan oleh
kelembaban.

Palang berfungsi membagi bidang antara dua tiang atau kuda
penopang dalam bidang yang lebih kecil. Dengan demikian, palang
akan memperkuat dinding juga. Melihat tinggi dinding maka
digunakan 2 sampai 3 palang. Palang disambungkan pada tiang dan
kuda penopang dengan pen biasa. Palang pintu bagian atas dan
palang jendela disambungkan dengan pen bergigi tunggal. Kedua
macam palang ini berukuran seperti tiang palang antara biasanya 2
cm lebih rendah.

3. Dinding Kayu Batang Tegak

Tinggi konstruksi tiang menentukan tinggi dinding. Tiang
berdiri tegak lurus antara bantalan dan gording dinding. Tiang
biasanya berpenampang bujur sangkar. Kalau penampang ini tidak
sesuai pada suatu titik, maka dapat digunakan tiang ganda yang
ditanam disambung dengan baut. Biasanya ini hanya terjadi pada
gedung-gedung dengan beberapa tingkat, dimana tiang ganda ini
berlajur terus sampai semua tingkat. Di atas dan di bawah tiang
biasanya diberi pen, yang dalam bantalan sedikitnya 4 cm, dan pada
gording dinding sedikitnya 6 cm panjangnya, yaitu ½ tingginya.


4. Dinding Kayu Batang Miring
Kuda penopang membagi segiempat bidang dinding yang
goyah dalam bidang segitiga yang mantap. Menjaga agar dinding
tidak bergerak oleh benturan atau tekanan angin. Antara tiang dan
kuda penopang, dalarn bantalan dan gording dinding harus tersisa 8
sampai 12 cm kayu muka, untuk menghindarkan pergeseran.

Penampang kuda penopang sedikitnya harus sarna dengan tiang.
Sering juga digunakan yang 2 cm lebih lebar. Sambungan atas dan
bawah dengan pen atau gigi tunggal menurut detail l sampai n.


5. Dinding Kayu Rangka Terusan (Lajur)
Konstruksi rangka terusan pada umumnya bagian luar dan
dalam dilapisi dengan papan. Tiang-tiang menembus melalui semua
tingkat bangunan. Oleh karena itu penyusutannya sedikit dan pada
dasarnya hanya tergantung dari bagian-bagian konstruksi yang
melintang. Maka bagian ini harus memenuhi syarat-syarat teknis.

Konstruksi rangka terusan pada umumnya dibuat dari papan.
Sambungan-sambungan seperti pen, gigi tunggal dan sebagainya tidak
digunakan disini, sebab semua sambungan dipaku. Untuk tiap-tiap
sambungan diperlukan paling sedikit empat paku. Jarak dari tiap-tiap
tiang pada umumnya kira-kira 60 cm.

Kestabilan pada arah horisontal diperoleh dari papan kuda-kuda
penopang atau dari lapisan papan-papan yang dipaku dan dipasang
diagonal. Kekuatan papan untuk rangka dinding yang bisa digunakan
adalah: 5/10, 5/12, 6/12. Berbeda dengan pada konstruksi tersusun,
maka pada konstruksi rangka terusan (lajur) biasanya dipasangkan
dinding papan atau susunan sirap. Beberapa cara pemasangan papan
dinding yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Pemasangan papan dinding vertikal

Pemasangan papan dinding dengan lis pelindung (lis tempel):
Papan dipaku di tengah saja setiap 60 - 90 cm. Tebal papan 20 mm dan
tidak boleh lebih dari 16 cm lebarnya. Lis tempel berukuran 45/45 mm
dengan sisi miring disekrup dengan sekrup ukuran minimum 2 1/2" pada
jarak sejauh jarak papan. Pemasangan semacam ini memungkinkan
papan menyusut dan mengembang tanpa mengakibatkan timbulnya
pecahan.

Pemasangan papan bersponing dengan sela konis juga menggunakan
sekrup untuk menghindarkan melengkungnya papan. Arah datangnya
angin dan hujan harus diperhatikan, sehingga bisa dihindarkan air
masuk melalui celah sambungan vertikal

b. Pemasangan papan dinding horisontal

Papan dinding horisontal menggunakan papan berukuran
maximum 20/160 mm. Seperti pada pemasangan papan kap, atau
pada pemasangan papan dengan sponing khusus, pemasangan
dilakukan dari papan ujung bawah. Setiap papan disekrup atau
dipaku di bagian bawahnya. Dengan rnenggunakan sekrup,
melengkungnya papan dapat dihindarkan. Sambungan papan-papan
dapat diatur selang-seling.


c. Pemasangan dinding sirap
Untuk bangunan kayu, maka dinding sirap merupakan penutup
dinding yang paling ideal, karena dapat disesuaikan rnenyusut dan
mengembangnya pada bidang konstruksi dinding tanpa berakibat tidak
baik. Keuntungan lainnya ialah bahwa dinding sirap memberi
perlindungan yang baik terhadap iklim dan tahan lama. Dinding sirap
yang sudah terpasang boleh dikatakan tidak membutuhkan perawatan.

Dinding sirap dipasangkan pada papan atau pada reng. Untuk
dinding biasa, yaitu dinding yang terlindung oleh atap, pemasangan dua
lapis sudah memadai. Tetapi karena biasanya sirap yang digunakan
untuk menutup dinding dari kualitas dua atau tiga, karena kualitas satu
dan dua sudah digunakan untuk atap, maka disarankan pemasangan
empat lapis.

Sirap dipaku dengan paku berkepala datar ukuran 1". Sirap
yang dipotong lurus lebih baik daripada yang dipotong runcing. Sirap
berujung runcing ini menyalurkan air melalui alur sambungan daun sirap
yang di bawahnya. Dengan menggunakan sirap yang panjangnya 55 - 60
cm, diperoleh deretan sirap yang berjarak 14 cm. Pemakuan deretan
sirap dilakukan dengan rnenggunakan benang yang direntangkan. Untuk
bidang yang sempit dapat ditarik garis dengan pensil melalui sebuah mistar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar